Laman

My Profil

Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sabtu, 26 Mei 2012

SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA

Sistem pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak ? Setiap hari pergi pulang sekolah, ternyata yang didapat tidak yang sesuai yang kita harapkan. Mereka berangkat ya hanya berangkat saja, tanpa ada motivasi yang mendorongnya. Mungkin mereka berangkat karena dipaksa orang tuanya, atau sekedar ikut-ikutan teman-temannya, atau untuk gengsi-gensian. Akhirnya mereka menganggap sekolah itu sepele.
Kebanyakan orang bersekolah itu yang dicari adalah nilai dan ijazah. Sehingga mereka mengambil jalan pintas untuk mendapatkannya. Mereka datang sekolah ya hanya datang, duduk, diam,bahkan ada yang waktu gurunya menerangkan asik bermain hp sindiri, ada juga yang mengajak ngobrol temannya. Kalau diberi tugas tidak pernah mengerjakan.  Padahal sekolah itu yang dicari adalah ilmunya. Kita dapat nilai baik kalau kita tidak tahu pelajarannya akan percuma.
Padahal banyak anak di daerah pedalaman itu yang semangat belajarnya tinggi namun karena terbatasnya fasilitas mereka tidak mendapatkan pendidikan yang layak seperti kita yang hidup di kota besar. Ada yang pergi sekolah harus berjalan kaki puluhan kilometer, ada yang harus menyeberangi sungai, ada yang sekolahnya ruangannya harus bergabung dengan kelas lain. Namun mereka tetap semangat waluapun harus seperti itu.
 Anak-anak di kota besar kalau bersekolah tidak bersungguh-sungguh. Ada yang dari rumah berangkat tapi tidak sampai disekolah. Akhirnya orang tuanya dipanggil ke sekolahan, ia merasa kaget dan bingung. Karena ia merasa anaknya dari rumah berangkat kok tidak sampai di sekolah. Ternyata anaknya setelah ditanyai, ia berangkat lalu berbelok arah, entah ke rumah pacarnya, ke warnet main game, atau pergi kemanalah.
Disisi lain guru juga merupakan faktor terwujudnya pendidikan yang berkualitas. Guru di Indonesia hanya 60% yang layak mengajar, sisanya masih perlu pembenahan. Hal itu dapat terjadi karena kurangnya pelatihan skill, kurangnya pembinaan terhadap kurikulum baru, kurangnya gaji. Kurangnya gaji juga mempengaruhi kinerja guru. Ia merasa sudah mengajar dengan sungguh-sungguh tetapi gajinya sedikit, sehingga akan membuat mereka malas. Ada yang mengajarnya tidak profesional gajinya justru lebih tinggi. Banyak guru honorer yang cara mengajarnya lebih baik daripada guru yang sudah mendapatkan gaji yang besar. Hal yang demikian yang harus ditindak lanjuti oleh pemerintah.

0 komentar:

Posting Komentar